Kehilangan?
Semua pernah mengalaminya. Ntah itu dari hal sederhana hingga kehilangan sesuatu yang paling berharga. Kosong, hampa, hingga sesak dan isak tangis, tak mampu diuntai dengan kata, tak sanggup terus menerus membayangkannya. Membayangkan yang hilang. Jauh dari mata, jauh tanpa bertemu kembali.
Masa dimana hari raya tiba, umat-Nya tersenyum bahagia, saat manusia saling bersapa, mengunjungi dan bersilaturahmi dari rumah ke rumah, melangkahkan kaki untuk saling bersuka cita. Di pojok sana, ada yang merasakan waktu terhenti. Orang yang berlalu lalang tak terlihat lagi. Seperti durasi yang terus melaju, tapi ntah, kenapa situasi ini membuat terdiam, mematung, rasa tak kuat mengikuti jalannya waktu. Sungguh ini masa terkelam. Bayangkan kehidupan tanpa sosok lelaki tangguh yang biasa menunggumu pulang. Khawatir anak gadisnya dalam bahaya. Kini hal itu hilang.
Kehilangan orang yang disayang, sungguh membuat pandangannya serasa berubah. Apakah ini dunia? Apakah dunia ini punya berbagai tabir. Untuk apa hidup, lalu mati? Bagaimana kematian bisa terjadi pada tubuh yang jantungnya biasa berdetak, darahnya mengalir ke semua jaringan tubuh, nafasnya berhembus setiap detik. Dan tiba-tiba semua terhenti??
Benarkah sakit menjadi alasan kematian tiba. Lalu? Bagaimana yang meninggal tapi tak sakit,
Bagaimana kalau dia sehat, lalu tetap juga meninggal di waktu yang telah ditetapkan. Seperti di luar sana, meninggal saat sedang sholat, saat sedang duduk, saat sedang berjalan, saat sedang tidur. Yang mereka pun tak merasakan sakit sebelumnya.
Hingga aku percaya, sakit atau kondisi lainnya sebelum meninggal itu adalah jaranannya. Sudah ditakdirkan meninggal di tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian, dan dalam keadaan itu. Diberi sakit, diberi takdir diperjalanan, dituntun dalam perjuangan. Lalu saat janji mengenai ajal tiba. Atas kuasa Allah, tubuhmu pun terhenti.
==========================================
Kehilangan lainnya bisa saja dari sesuatu yang pergi dan tak tau kapan kembali, namun masih di bumi yang sama. Mungkin, kalau masih baik-baik saja.
Black namanya. Dari nama pasti kau tau berwarna apa. Kucing berbulu hitam bukan hitam legam. Ada campuran abu-abu, telapak kaki mungil berwarna gelap. Lidahnya saja yang berwarna merah muda. Matanya yang tajam, bertubuh gagah seolah olah menjadi penjaga. Padahal bisa terbilang manja. Mengelus kaki tuannya dengan hidung tak mancung itu. Ntah pergi kemana Si Black, katanya mengikuti jejak kucing cantik berbulu putih yang singgah. Nyaman di sisi betina itu, buat dia enggan pulang kerumah tempat kelahirannya.
==========================================
Tidak seperti Black yang pergi dari rumah, tuannya justru berat melangkahkan kaki keluar rumah. Mulai lelah karna sepanjang hari dari matahari mulai muncul, hingga matahari terbenam setiap harinya mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Emosional yang terkuras di dalam sanubari, pikiran yang tak tentu arah, seakan terselimuti kabut gelap, sesak. Aku siapa? Aku sedang apa? Apa ini yang aku inginkan, apakah ini yang harus kulakukan?
Mulai mempertanyakan makna bahagia, apakah uang, jabatan, kesibukan? Justru rehat sejenak menghela nafas adalah yang dibutuhkan. Walau kehilangan seonggok upah. Demi kembali menjadi manusia.
Memang masih tak tau arah, tunggu saja sebentar. Mencari hal lain yg lebih masuk akal sembari mengasah diri menjadi yang mumpuni.
==========================================
Syukurlah itu tak berlangsung lama. Penantian pun tiba. Akhirnya aku menemukan jati diri sesungguhnya, menemukan apa yang disebut mereka sebagai panggilan jiwa. Saat menuangkan teorema, rumus berisi logaritma dan angka, mengukir di papan putih dan terhapus dengan secarik kertas. Hemm sungguh anak-anak itu, kadang menguras emosi namun kadang memberikan sumringah kecil yang tak disadari. Jujur, dari lubuk hati. Ini kebahagiaan sejati. Walau yaa, ada sisi lainnya yang tak perlu diungkap. Karna memang semua hal ada baik buruknya bukan?
Baru saja merasakan suasana baru, beradaptasi dengan lingkungan yang sebelumnya sangat asing. Yang ntah siapa, dan darimana. Basa basi sedikit diperlukan untuk mencairkan suasana.
Tiba waktunya pulang, kecepatan yang tak aman. 60 km/jam. Angin berhempus dari arah mata memandang, meniup kaca penutup kepala. Sungguh terkejut, cukup panik hingga tangan dengan cerobohnya menggenggam rem erat-erat. Jatuh, tersungkur, terseret di aspal hitam itu. Terpejam sesaat. Apakah aku masih ada?
Cairan merah mengalir dari kaki, merembes melalui balutan tipis kecoklatan. Tak pedih, karna belum disadari. Saat mata tertuju pada sebuah luka, disana matapun mulai meneteskan air matanya, merintih, mengeluh untuk beberapa waktu. Cukup lama. Hingga bulan berganti. Sampai mencari makna sebuah doa. Doa yang kupanjatkan agar kembali sehat sentosa. Kesehatan itu yang hilang. Kapan kembali? Kapan lantunan merayu Tuhan kan diijabah oleh-Nya. Sabar. Sudah, cukup, atau masih kurang?
==========================================
Hingga pergantian tahun ini. Cukup sudah dilalui 2023 !
Semoga 2024 memberikan makna bahagia sesungguhnya. Mengembalikan yang hilang atau menggantikan yang tak bisa kembali. Setidaknya tawa dan suka cita adalah harap yang kan ku syukuri.
Pandai nulis jugo cik gu satu ini. Teruskan yes, mantap..
BalasHapusHehe bisa dikit bu. Makasi bu mil :)
Hapus