Virus Corona Dalam Perspektif Matematika
Virus Corona Dalam Perspektif Matematika
Model
Matematika
Model matematika yang membahas
tentang penyebaran penyakit ini sering disebut Model S-I-R (Susceptible-Infected-Recovery).
Dari data yang dikumpulkan setiap hari, terutama data orang yang terinfeksi,
orang yang meninggal akibat virus dan orang yang berhasil sembuh dari bahaya
virus Corona; dapat disimpulkan bahwa virus Corona termasuk jenis virus yang
menyebar dengan cepat sekali. Berdasarkan data dari WHO. Grafik persebaran
virus corona (dilihat dari jumlah orang yang terinfeksi pada setiap interval
waktu) sudah berbentuk eksponensial. Ini menunjukkan bahwa virus ini
sangat berbahaya. Bahkan, laju persebaran virus corona lebih tinggi dibanding dengan
SARS, ” ujar Dr. Sutanto.
Jika grafik eksponensial sudah
hampir membentuk huruf “S” yaitu tatkala jumlah orang yang terinfeksi berda
pada kisaran 45 k, sebenarnya sudah mulai ada upaya yang signifikan untuk
menghambat laju kontak antara orang yang sudah terinfeksi dengan orang yang
sehat. Mungkin dikarenakan persebaran virus Corona yang sudah meluas di daratan
China ini makin sulit dideteksi, maka sampai hari ini grafik belum menuju pada
kurva “S”. Dan bahkan cenderung terjadi kasus-kasus baru infeksi dengan jumlah
yang cukup besar.
Berbeda dengan virus SARS, pada
kondisi 8000 lebih orang terinfeksi virus SARS, grafik sudah mendatar. Artinya
sudah tidak terjadi lagi orang yang terinfeksi virus SARS. Dr. Sutanto
melihat secara model matematika, kasus penyebaran virus corona ini dibagi menjadi
tiga fase (S-I-R). Dimana
status orang yang tinggal di kota Wuhan pada setiap interval waktu akan
didapati 3 status, yaitu : Susceptible,
Infected dan Recovery. Sehingga jumlah penduduk yang berstatus
Susceptible, Infected dan Recovery di kota Wuhan pada setiap interval waktu
akan berubah-ubah. Secara matematis, kota akan bersih dari virus corona, kalau
jumlah orang berstatus infected adalah nol. Dan inilah yang menjadi pekerjaan
besar, pada waktu kapan, jumlah orang yang berstatus infected menjadi nol ?
Untuk mendapatkan angka nol, ada
2 tahapan yang musti dilakukan : pertama, membuat kurva S yaitu menekan laju
kontak orang yang terinfeksi dengan orang sehat. Kedua mengobati orang yang
sudah terinfeksi sehingga sehat kembali. Secara matematika, model diatas dibagi
menjadi 3 fase.
Pada fase pertama, status Susceptible dimana kondisi
manusia yang lemah sehingga mudah terjangkit atau tertular virus corona. Mereka
yang berada di fase pertama ini diharapkan untuk tidak keluar rumah, kota atau
negara supaya tidak tertular virus corona. Dengan begitu maka laju interaksi
atau laju kontak menyebaran virus corona bisa dihambat.
Kemudian dari fase pertama
ini, mereka bisa masuk ke dalam fase kedua yaitu status orang yang Infectious. Dari fase Susceptible
tersebut, mereka bisa berubah status menjadi ter-infeksi lantaran melakukan
kontak langsung dengan orang yang positif terkena virus corona. Dalam fase
infectious tersebut, tim medis bekerja keras untuk menangani supaya laju
kesembuhan tinggi. Pihak pemerintah China pun membuat Rumah Sakit (RS)
khusus untuk menangani pasien dengan virus corona supaya tidak menular ke
pasien lain. Tidak hanya itu, perlu dilakukan karantina baik yang sehat
maupun yang sakit untuk menekan laju kontak antara keduanya. Meskipun dengan
usaha tersebut, masih banyak korban yang meninggal dunia, dengan tingkat laju
kematian yang cukup tinggi.
Kemudian fase ketiga yaitu Recovered. Di fase
ini, orang-orang yang tidak meninggal dunia, yang mereka dinyatakan sembuh
perlu dilakukan pemulihan supaya tidak kembali terinfeksi virus corona.
Sehingga siklus dari ketiga status tersebut menjadi seperti dibawah ini.
Proporsi orang yang
Susceptible-Infected dan Recovery
Contoh grafik diatas, adalah
proporsi orang yang terinfeksi sampai pada 60% dari jumlah penduduk yang
Susceptible, kemudian berhasil ditangani sehingga menurun atau dikatakan status
orang yang etrinfeksi berubah menjadi status recovery (atau sehat kembali).
“Dari data WHO, meski
proporsi orang yang terinfeksi masih sekitar 0.85%, namun laju kontak orang
yang terinfeksi virus ini sangat tinggi, dan laju kesembuhan kecil.
Hal ini kalau tidak segera ditangani maka jumlah penduduk yang akan terkena
virus corona akan terus meningkat, ” katanya.
Secara Eksponensial
Pada tahap awal epidemi, ketika sebagian besar orang
rentan terhadap infeksi, ahli matematika dapat memodelkan penyebaran suatu
penyakit dari orang ke orang lainnya sebagai proses percabangan acak. Jika satu orang yang terinfeksi menulari rata-rata dua orang
lainnya, jumlahnya orang yang terinfeksi akan menjadi dua kali lipat tiap
prosesnya. Pelipat gandaan
ini biasa dikenal sebagai pertumbuhan eksponensial.
Penelitan menyatakan jumlah kasus
COVID-19 yang terkonfirmasi terus mengalami peningkatan eksponensial secara
global dengan angka penggandaan
tiap enam hari. Model pertumbuhan eksponensial sangat menggambarkan
realitas ketika dimulai dengan sejumlah kecil orang yang terinfeksi dalam
sebuah populasi besar, seperti ketika kasus virus yang pertama kali muncul di
Wuhan atau ketika virus ini muncul di Italia dan Iran. Tapi ini bukanlah sebuah
model yang baik ketika sudah banyak orang yang telah terinfeksi. Ini karena
kemungkinan seorang yang terinfeksi melakukan kontak dengan orang yang rentan
tertular menurun, karena ada lebih sedikit orang yang rentan di sekitarnya dan
juga semakin banyaknya orang yang pulih dan telah mengembangkan sistem
kekebalan tubuh yang mereka punyai.
Akhirnya,
kemungkinan orang yang terinfeksi dan melakukan kontak dengan orang yang rentan
menjadi rendah dan membuat laju infeksi menurun dan mengarah pada lebih
sedikitnya kasus baru yang bahkan dapat berujung pada berakhirnya penyebaran
virus.
Meratakan kurva
Otoritas kesehatan di seluruh
dunia tidak dapat sepenuhnya mencegah penyebaran COVID-19. Jika kasus berlipat
ganda tiap enam hari, maka rumah sakit, juga unit perawatan intensif (ICU) pada
umumnya, akan cepat kewalahan dan membuat pasien tidak mendapatkan perawatan
yang dibutuhkan.
Kendati
demikian, laju pertumbuhan penyakit ini dapat diperlambat dengan mengurangi
jumlah kasus rata-rata yang muncul karena tertular oleh satu kasus.
Dengan melakukan hal itu, jumlah
orang yang terinfeksi mungkin akan sama, dan epidemi akan berlangsung lebih
lama, tapi jumlah kasus yang parah akan menyebar. Ini berarti jika Anda memplot
grafik jumlah kasus dari waktu ke waktu, pelonjakan dan penurunan kurva lebih
lama terjadi tapi puncak kurva ini lebih rendah. Dengan “meratakan kurva”
seperti ini, unit perawatan intensif akan lebih kecil kemungkinannya untuk
kehabisan kapasitas.
Meratakan
kurva adalah cara lain untuk mengatakan memperlambat penyebaran. Epidemi ini
diperpanjang, tapi kita mengurangi jumlah kasus parah, menyebabkan lebih
sedikit beban pada sistem kesehatan masyarakat.
# KKN MANDIRI UNIVERSITAS BENGKULU PERIODE 91
Mantap kk👍👍😊😇
BalasHapusMantap kk👍👍😊😇
BalasHapusKeren
BalasHapus