Fakta-fakta Menarik Seputar Virus Corona


Fakta – Fakta Menarik Seputar Virus Corona

1. COVID-19 bukan termasuk dalam lima penyakit mematikan

Lima penyakit teratas yang membunuh kebanyakan orang di seluruh dunia setiap tahun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seperti yang disarikan oleh Datuk Dr Nor Ashikin Mokhtar kepada The Star. COVID 19 bukan salah satunya. Penyakit paling mematikan bagi manusia modern saat ini adalah penyakit arteri koroner, juga dikenal sebagai penyakit jantung iskemik. Ketika pembuluh darah seseorang menyempit karena kerusakan, mereka beresiko serius terkena penyakit jantung. Kemudian yang kedua adalah stroke. Stroke dapat terjadi ketika arteri di otak tersumbat atau bocor. Otak Anda akan kekurangan oksigen dan sel-sel akan mulai mati dalam beberapa menit. Penyakit mematikan ketiga yaitu Infeksi saluran pernapasan. Flu, bronkitis, TBC dan pneumonia adalah sumber infeksi di paru-paru Anda. Kemudian keempat ada penyakit paru obstruktif kronik. Kondisi ini membuat sulit bernafas dalam jangka panjang. penyakit mematikan yang kelima adalah kanker pernapasan Penyakit ini termasuk kanker bronkus, trakea, paru-paru dan laring. Faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya jenis kanker ini termasuk asap rokok, partikel beracun, merokok, jamur di rumah dan racun lingkungan lainnya.

2. Pandemi COVID-19 membuat emisi gas rumah kaca sama kondisinya dengan 1990-an
Dilansir dari Tehran Times, sejak awal 2020, banyak orang mengalami hal tak terduga. Untuk pertama kalinya secara berturut-turut, emisi gas rumah kaca, konsumsi bahan bakar fosil, lalu lintas udara, darat dan laut secara drastis telah menurun. Keadaan tersebut membuat emisi gas rumah kaca pada Maret 2020 menjadi sama kondisinya dengan 1990-an, yaitu 30 tahun yang lalu. Menurut Darvish, menurunnya pergerakan manusia di alam dan lingkungan luar ruangan secara signifikan mulai mengurangi jumlah polusi suara dan gempa bumi. Hal itu rupanya memudahkan para ahli geologi mempelajari kerak luar bumi.

3. Pengguna sosial media meningkat hingga 40%
 
Melansir Tech Crunch, lembaga riset Kantar mengungkapkan banyaknya aktivitas pengguna media sosial selama beraktivitas di rumah. Setidaknya ada peningkatan lebih dari 25.000 pengguna baru aplikasi pesan instan WhatsApp dalam beberapa pekan terakhir. Untuk diketahui, survei yang dilakukan pada 14 hingga 24 Maret. Selama itu anak perusahaan Facebook ini secara keseluruhan mengalami peningkatan trafik WhatApp sebanyak 40 persen dan trafik tertingginya terjadi di Spanyol. Secara global, kenaikan trafik penggunaan WhatsApp melonjak ke angka 51 persen di sejumlah negara yang mulai memberlakukan kebijakan karantina wilayah. Dalam laporan Klear, sekiranya 6,1 kali unggahan story dalam satu hari yang dilakukan pengguna Instagram. Bahkan tagar-tagar baru untuk menambah ragam aktivitas dari unggahan Instagram juga ikut meningkat sebanyak 21 persen. "Pertumbuhan penggunaan saat wabah COVID-19 belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh industri, dan kami mengalami rekor baru dalam penggunaan hampir setiap hari," kutip VOI dari laporan Klear.

4. Fakta 75% pasien coronavirus dalam perawatan intensif kelebihan berat badan.
Hal ini mengisyarakat orang gemuk rentan terkena infeksi virus corona. Pun orang gemuk, dalam hal ini obesitas berisiko mengalami gejala Covid-19 parah. Covid-19 menempel pada reseptor ACE-2, yang memecah dua bentuk protein untuk menjaga tekanan darah stabil. Sel-sel lemak juga menciptakan reseptor, yang dapat ditemukan pada penderita diabetes tipe-2. Obesitas dianggap sebagai salah satu faktor risiko terbesar yang terkait dengan gejala virus corona parah. ebuah studi yang dilakukan oleh Konsorsium Karakterisasi Klinis Coronavirus menemukan bahwa hampir 75% pasien coronavirus dalam perawatan intensif kelebihan berat badan. Para peneliti menganalisis 17.000 penerimaan virus corona dan menemukan tingkat kematian 37% lebih tinggi di antara pasien obesitas.

5. Virus Corona di prediksi tidak akan hilang 
Seorang pakar kesehatan di Selandia Baru, Simon James Thornley, bahkan mengatakan virus Corona ini tak bisa hilang dalam jangka waktu yang panjang.
"Saya rasa kita tidak bisa menghilangkan virus (Corona) untuk jangka waktu yang panjang. Kita harus belajar untuk hidup berdampingan dengan virus ini,"
kata Thornley yang dikutip dari Fox News, Jumat (26/6/2020). Senada dengan Thornley, pakar penyakit menular penyakit terkemuka di AS, Dr Anthony Fauci, juga pernah mengungkapkan pendapat seperti itu. Menurutnya, dunia tidak akan pernah bisa kembali pada kondisi normal seperti sebelum Corona muncul.



#KKN MANDIRI UNIVERSITAS BENGKULU PERIODE 91

Komentar